Sabtu, 07 September 2013

Balada Tong Sampah


Aku adalah Tong Sampah. Setiap hari aku hanya duduk terdiam di sudut ruangan menunggu sahabat sejatiku, Lalat. Kadang aku minder pada nya, karena tubuhku yang kotor dan bau ini. Selain itu juga karena kulit ku yang mudah sobek jika aku terjatuh. Tapi lalat benar-benar sahabat sejatiku, ia tidak mempermasalahkannya bahkan ia selalu menghampiri dan menemani aku setiap hari.

Sungguh, aku bersyukur memiliki sahabat seperti lalat. Yang tidak pernah mempermasalahkan fisik ku. Tidak seperti mereka, yang tidak tahu diri, mereka yang telah menitipkan barang sisanya di dalam tubuhku, terutama saat mereka beristirahat dari rutinitas mereka.
Mereka meremehkan aku ! 
Mereka melupakan aku !   Semua itu karena aku kotor... semua itu karena aku bau , apa mereka tidak sadar, bahwa mereka lah yang telah membuat aku seperti ini ?
Sudahlah.. aku tidak peduli dengan mereka yang tidak pernah menghargai keberadaanku. Yang penting, hingga saat ini ada lalat yang selalu menghampiri aku.

Kesetiaan sahabatku, aku bayar dengan usahaku mengurangi bau tubuh. Tentu tidak dengan deodoran, tapi dengan mengenakan sebuah topi di atas tubuhku. Aku harap usahaku ini dapat membuat lalat nyaman berada di dekatku.

Tapi tampaknya semua akan sia-sia saja, Si Lalat pasti tidak akan pernah merasa nyaman, semua karena salah mereka yang tidak pernah menghargai aku. Topi yang sedianya mengurangi bau tubuhku, dikotori oleh benda sisa milik koloni tidak tahu diri itu. Mereka malas untuk membuka topiku dan memasukan barang itu ke dalam tubuhku. Mereka menaruh benda sisa mereka di atas topi ku. Bau... yang aku dapat kan, sementara mereka.. ahh tak akan peduli aku dengan koloni itu.

Tapi aku tau, tidak semua dari koloni itu berbuat jahat pada ku. Ada seorang dari koloni itu yang selalu mengangkut aku ke tempat pembuangan, menmandikan aku, membuat aku menjadi wangi dan bersih kembali. Tubuh yang ringan serta dua telinga lebar di tubuhku, aku harap dapat membantu meringankannya dalam merawat ku.

Hingga suatu sore, tubuhku sudah terlalu penuh dengan berbagai benda menjijikan di dalamnya. Tubuhku yang semula ringan, bertambah berat berkali-kali lipat. Orang yang baik padaku pun datang, ia mengangkat ku, mungkin karena aku terlalu berat, aku pun jatuh. Sedih , kecewa, tapi aku tidak akan marah pada orang itu.

Jatuh.. mebuat kulitku sobek, dan dengan sobeknya kulitku berarti berakhirlah tugasku menjaga kebersihan.
Dengan kulit sobek aku di angkut entah oleh siapa, ke sebuah tempat dimana banyak kloni ku disana, tapi yang membuat aku heran walau kita satu koloni tapi bentuk fisik kita berbeda-beda.  Semua yang ada di tempat itu  kulitnya sobek, ya inilah tempat penampungan kami. Lama ak berada di sini, dengan kyakinan sahabatku lalat akan datang menghampiri.

1 hari...’2 hari... 3 hari.. hingga 1 minggu... ia tidak menghampiri aku. Seolah tamparan keras untukku dan telah menyadarkan aku, lalat bukanlah sahabt yang baik. Ia hanya datang ketika aku penuh dengan barang sisa. Dan kini ku sadar ia datang untuk mengambil makanan dari sana.
Kini aku benar-benar sendiri, kulihat sekelilingku banyak kertas yang berserakan di tanah. Mereka begitu enjoy, mereka begitu menikmatinya, proses besatunya kembali mereka dengan alam. Mulai dari kertas utuh, melakukan diet sehingga ukuran menjadi lebih kecil, hingga akhirnya mereka bersetubuh dengan tanah.

 Betapa indah nya menyatu kembali dengan alam. Aku ingin, tapi kulit ku tercipta berbeda dengan kertas, perlu waktu lama kulitku dapat menyatu dengan alam, perlu waktu lama aku kembali ke alam.
Kini hari-hari hanya kuhabiskan dengan para koloni ku, berbicara kekejaman dan ketidak tahu dirian mereka yang mengisi tubuh kami dengan barang sisa. Hingga satu persatu dari kami bisa menyatu dengan alam. Hingga waktunya nanti tiba, aku menyatu dengan alam.