Minggu, 08 Juli 2018

Tentang Aku dan Surti

Kita bertemu tak sengaja
Dari aplikasi yang banyak disalahgunakan secara sengaja
Mungkin sekarang kita malu mengakuinya haha
Mungkin pula kamu memilihku karena tak sengaja
Tapi aku tau aku memilih karena wajahmu yang bersahaja

Tak beda dengan yang lain,
Kamu sambut aku dengan cuek dan biasa saja pada saat itu
Namun, kamu percaya untuk memberi kontak supaya bisa mengenalmu lebih jauh.


Aku pikir kita hanya akan berteman di dunia maya
Namun, hari itu kita beranikan diri untuk bertemu
Beranikan diri, menghadapi kenyataan
Beranikan diri, berdamai dengan kenyataan

Saat kita bertemu
Kamu menyambutku dengan lambaian dan senyuman manja
Aku menyambutmu dengan apa aku lupa.... aku hanya terpana

Melangkah bersama di eskalator
Aku mencoba mencairkan suasana..
"Makan siang dulu yuk, kamu mau makan apa ?" tanyaku.

kamu menjawab

"Aku kira kamu tinggi lo...."
Dan tepat saat itu, aku berdamai dengan kenyataan.

Sabtu, 07 Juli 2018

Presidential Threshold, perlu gak sih ?

Lagi-lagi Presidential Threshold (PT) digugat ke MK. PT sebesar 20% yang menjadi salah satu syarat untuk maju dalam pemilihan presiden, dianggap membatasi hak politik warga negara. Tapi, sebenernya kita perlu gak sih PT itu sendiri.

Menurut aku pribadi, PT diperlukan sebagai seleksi awal, dengan adanya PT, partai yang berkoalisi tentu tidak akan sembarangan mengajukan  calon, perlu seleksi internal dalam partai politik yang berkoalisi. Sehingga calon yang maju dalam pemilu sudah lebih dahulu terseleksi pada tingkatan partai koalisi sebelum maju ke tingkat nasional, dan tentunya merupakan orang yang dianggap paling kompeten serta dari segi  popularitas dan elektabilitas terbaik dalam koalisi tersebut.
Mengenai pembatasan hak politik, aku rasa tidak, karena setiap orang tetap dapat mengajukan diri sebagai calon presiden melalui kendaraan-kendaraan politik, yaitu partai politik. Namun, tentu tetap  harus mengikuti seleksi melalui konvensi dalam partai politik itu sendiri.

sumber :detik news
Bila PT kemudian dihilangkan tentu akan membuka peluang ada banyak pasangan calon dalam kontestasi pemilu. Memang, dalam demokrasi, semakin banyak alternatif pilihan lebih baik, namun aku pribadi memandang bila terlalu banyak pasangan calon juga akan memakan banyak biaya dalam pelaksanaan rangkaian pemilihan umum presiden. Lagipula, bila ktia melihat kondisi politik di Indonesia saat ini, dengan ada PT pun masih ada kemungkinan munculnya poros ketiga, sehingga ada 3 pasang calon. Namun semua kembali lagi kepada perhitungan dan kepentingan politik  dari partai-partai yang belum menentukan koalisinya.

#2019GantiPresiden

Melihat lebih jauh dari cita-cita mengganti presiden, bila PT dihilangkan dan muncul banyak calon menurutku akan lebih sulit mewujudkan cita-cita tersebut. Karena dengan banyaknya pasangan calon, maka suara akan semakin terpecah. Sementara itu, pada pihak petahana, telah memiliki dukungan dari banyak partai politik yang bisa jadi pendongkrak suara (walaupun ada kemungkinan bila PT dihapuskan, beberapa parpol dapat memutuskan keluar dari koalisi dan mengajukan capres sendiri). Disamping itu, petahana masih memiliki elektabilitas cukup tinggi (46% Survei LSI Per Mei 2018). Meskipun ada beberpaa pihak yang berpendapat elektabilitas Jokowi mulai goyah. Sehingga apa bila pihak-pihak yang memiliki cita-cita #2019GantiPresiden berkoalisi  memunculkan satu nama penantang Jokowi, kemungkinan suara akan terakumulasi dan  cukup merepotkan bagi pihak petahana. 

Namun, kembali lagi dalam dunia politik smeua kemungkinan dapat terjadi menurut kepentingan masing-masing aktor =aktor politik. Mungkin cukup sekian dulu opiniku mengenai Presidential Threshold, kalau menurut kamu gimana nih, perlu gak sih Presidential Threshold ?

Yuk diskusi di kolom komentar...

Jumat, 15 Mei 2015

AKU vs TONG SAMPAH


bau....
bau..
bau..
babu...
itu kamu...!
tong sampah yang mulai kaku.. dimakan waktu...
tak sadarkah kamu akan usiamu??
bahkan kulitmu...
ya kulitmu...
mudah pecah saat kena batu...
tak sadarah kamu?? akan kondisimu...

tapi justru
 Berani-beraninya kamu...
mendekati wanita unyuu
yang seharusnya menjadi milikku...

aku tau..
dengan baju ungu..
wanita itu sangat menawan hatimu
dan juga tentu
hatiku...

dan dengan memegang sapu
terlihatlah aura ibu...

tapi tentu...
itu aura ibu untuk anak-anak ku...
wanita itu miliku..!

sekali lagi kamu harus tau...
dia milikku...

tak ingin lagi aku...
aku melihatmu dengan baju biru
mendekati wanita ku
seperti kemarin rabu..
atau merayu
seperti kemarin sabtu...
panas badanku..
sesak dadaku...

kulihat nafasmu memburu....
mungkin karena melihat  paras ayu..
atau..
 melihat sesuatu dibalik baju ungu... aku tidak tau !

ssttt...
ini tidak saru...
hal ini hanya dianggap tabu.. di lingkunganmu...

tapi pesanku untuk mu
tong sampah yang sudah kaku...
jadilah pribadi baru...
hargai wanita itu..
hargai semua ibu
hargai semua para calon ibu...

tapi...
ini tidak tentang akhiran "U" kawan...
ini tentang menghargai wanita
ini tentang sikap fasisme pria untuk mendapatkan wanita...
ini tentang dunia